Sunday, December 29, 2019

Random things about how we do things

For as long as I can remember, I’ve had trouble expressing myself, verbally more specifically. As a kid, I often felt trapped and anxious because I had so much going on on the outside and inside. I found it hard to communicate and speak for myself, and it was pretty sad to know that it affected my confidence, that I didn’t really have anyone I could speak to, and understand what I was feeling.

At some point, I realized that if I couldn’t just tell people directly about it, maybe I could, at least, show it through other forms. It took me a while, too, to feel ‘allowed’ and ‘justified’ to tell others my opinions and, basically, share to others what I think. Writing was sometimes embarrassing because you’ve let your imagination running wild, and then fictions were specifically a million times more prone to judgment and criticism because of the idea itself. I never thought anything about it was right, but I just wanted to keep doing it. Later on, I I discovered some more genres or styles in writing, then I started to write drabbles, and poems. 

And then also started growing interest in taking photos. I don’t specifically store and show them off either, but I kinda like capturing myself, people, circumstances, moments. I learnt designing and decorating, I studied foreign languages, too, though my ability is still far from proper. Every time I started doing something new, I’d still think, “Who do you think you are to feel allowed to do this? Who do you think you are when there are so many people out there who are so good at doing this? Do you think you are enough while others have being doing it for their entire lives? Who am I to think that I was able to create something beautiful?”

The self discouraging is always loud, both internally and externally. But, the truth is, there has always been beauty and capability within all of us. It is, indeed, rather hard to express is out loud, especially when you are less skilled. But if you really stick it to your habit, you will able to get to the point where you put aside negative thoughts and focus on what’s positive on the inside instead.

Until today, I still find myself lacking in pursuing what I want to produce and achieve. But I started to understand that the most important thing would maybe the phase when you’re just doing it for the sake of doing it, when you feel like you need to do it and you do it anyway. I continue thinking, and writing, until I’m able to speak freely with my own mouth, instead of shutting my mind once for all, and not letting any single word coming out. I still consider this experience a trial, but never a burden. That’s why I still want to try writing through as many medium as I can think of. Although the result is subpar, and the response is rather average, at least it works for me. Creating things gives off a sense that sends your points across, and a feeling that makes you proud.

Let’s forget about being admired for a while, because a semblance of satisfaction after doing it has been enough for now. Doing something not necessarily for the recognition, but rather for finishing it and pursuing the feeling of being able to finally do something, isn’t so bad after all. Thanks to platforms like blog, twitter and ig, I’m beginning to think, there’s always a way I can communicate things.

Although, speaking through a writing on my blog like this could still be considered as me talking to a big void with countless doubts and insecurities, this kind of mindset slowly helps me to not stress about the outcome. In fact, I used to be stressed a lot by the thought of whether the result is good or not. But, honestly, if I can stand being incapable of things, there has to be a chance, too, where I should be able to make any other things work as well. Maybe, someday, I can do many other things, too. Only, for now, enjoy everything in between, then you’ll know you already have enough to keep on going. (Baby steps, girl. We’ll get there!)

Friday, November 22, 2019

Random thought about how we see life

Kita sering denger ungkapan “bahagia itu sederhana”. Tapi, bener gak sih bahagia itu sederhana? Bener gak sih bahagia itu mudah dan simpel? Menurutku, bahagia memang sederhana.

Bahagia menurut seseorang adalah nilai A, sementara seseorang lainnya sudah bahagia untuk pergi ke sekolah. Bahagia bisa diperoleh semua orang. Tapi, bahagia datang pada kondisi-kondisi yang berbeda.

Bahagia menurut seseorang adalah mengerjakan deadline di ruang kerjanya. Seseorang yang lain merasa bahagia ketika masih mencari pekerjaan karena ternyata dia punya lebih banyak waktu dengan orang-orang terdekatnya. Seseorang lainnya merasa karena tidak mengejar kelulusan. Kegiatan dan teman-teman di kampus nyatanya mampu membuatnya merasa cukup, dan terbebas dari pikiran-pikiran kacau.

Bahagia bisa diperoleh semua orang. Tapi, bahagia datang pada waktu yang tepat, dan menurut ukuran masing-masing orang.

Bahagia menurut seseorang adalah merayakan anniversary dengan pasangan, sementara seseorang merasa bahagia ketika dia masih merasakan kebebasan dalam berteman dan menjalin hubungan.

Bahagia bisa diperoleh semua orang. Tapi, bahagia datang untuk alasan yang dimiliki secara berbeda-beda.

Orang-orang di sekeliling kita mungkin terlihat lebih bahagia. Tanpa kita tahu, mereka mungkin melihat kita dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang kita rasakan.

Setiap orang bisa bahagia pada kondisi masing-masing, di waktu yang tepat menurut masing-masing, serta berdasarkan alasan yang sesuai dengan diri masing-masing. Bahagia selalu punya alasan. Bahagia selalu dapat ditemukan dan diciptakan; itulah kenapa bahagia memang sederhana.

Semua orang punya kebahagiaannya masing-masing. Jadi, selalu percayalah pada diri sendiri. Semesta akan membantu kita untuk memperoleh kebahagian. Tapi, sebenarnya, bahagia itu sederhana.

Asal kita selalu jujur sama diri kita. Asal kita menghargai apa kita punya. Asal kita tidak membandingkan diri sendiri dengan orang-orang di luar sana. Selalu bersyukur, selalu bahagia. 

Thursday, October 31, 2019

Dear Self, stay safe and sane

Bulan Oktober, tepatnya tanggal 10, diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia. Ragam aktivitas dilaksanakan karena banyak pihak kian ingin turut menyemarakkan, termasuk berbagai bentuk edukasi dan kampanye yang disampaikan melalui media sosial. Saya merasa betul betapa jagat maya penuh dengan seruan tentang perayaan Hari Kesehatan Mental.

Khususnya pada tahun ini, suasana peringatan Hari Kesehatan Mental diwarnai dengan pemutaran film Joker –yang hangat diperbincangkan karena diangkatnya isu penyakit jiwa. Serta, kematian penyanyi-aktris Korea Selatan, Sulli (Choi Jinri), karena pilihannya untuk bunuh diri.

Media sosial adalah sarana termudah berbagi informasi dan wadah berekspresi di era kini. Satu hal yang harus kita sadari adalah, media sosial dapat bersifat sebagai pisau bermata dua mewakili segala manfaat dan mudaratnya. Media sosial dapat menjadi ajang dan sumber kita mengeksplorasi eksistensi kesehatan mental. Di sisi yang lain, media sosial dapat menjadi pemicu adanya, bahkan memperparah kondisi penyakit mental. Hati-hati.

Kita tentu sudah sering mendengar istilah perisakan, atau bahasa “keren”-nya bullying. Dalam Psychology Today (Maryam Jameelah di Voxpop, 2019), bullying adalah upaya penindasan dengan pola khusus yang betujuan untuk melukai dan mempermalukan orang lain. Bullying adalah perilaku yang disengaja untuk menyebabkan kerugian pada orang lain atau korban.

Menurut saya, alasan di balik seseorang melakukan bullying tidak bisa disamaratakan. Ada yang melemparkan bullying sebagai bentuk pelampiasannya, ada pula yang memang seorang pure evil.

Bullying dalam film Joker dilakukan secara langsung oleh orang-orang sekitar dengan mencela kondisi Arthur Fleck a.k.a. si Joker. Arthur menderita sebuah gangguan kesehatan, di mana ia akan mengeluarkan tawa tak terkontrol sebagai akibat cedera pada otak.

Arthur dianggap sebagai orang yang konyol. Bahkan melalui siaran langsung televisi dalam film tersebut, kondisinya membuat Arthur seperti sah-sah saja dilabeli sebagai joke atau lelucon masyarakat. Masalahnya yang kemudian Arthur menjadi seorang penjahat, bukan karena ia melebih-lebihkan ejekan atau bullying orang terhadapnya. Kita tidak pernah tahu seberapa besar toleransi orang terhadap rasa sakit dan malu. Walaupun saya tidak membenarkan aksi kejinya selepas ia merasa tersakiti.

Kisah sedih lain dialami Sulli di laman maya. Oh, Sulli-ku yang malang.

Hingga saat ini, saya masih merasa heran dan sedih mengingat bagaimana orang di luar sana dengan mudahnya meninggalkan kalimat-kalimat bernada apatis (read: negatif) di akun media sosial Sulli, baik ketika ia masih hidup maupun telah tiada.

Kalau boleh saya bilang, Sulli justru telah menjadi sosok yang sangat kuat, berbakat, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sulli adalah contoh advokasi zaman sekarang yang berani menyuarakan hak dan pilihan seorang perempuan. Akhirnya, ia memilih berhenti menanggapi mereka yang justru lebih dulu tidak pernah bersedia untuk mengerti. Sesungguhnya, Sulli mencoba bertahan, hingga merasa sudah mencapai batasnya selama itu diam saja ketika mendapat perundungan. Saat ini, perlu diketahui saya pun tidak membenarkan keputusan Sulli untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Balik lagi ke media sosial, kita tidak perlu, kok, secara tiba-tiba, menjadi saint yang membagikan seluk-beluk kesehatan mental agar tingkat kepedulian menjadi tinggi. Yang terpenting, kita tidak boleh menjadi villain yang memberikan tekanan pada orang lain melalui komentar-komentar kita.

Tidak boleh ada netizen kejam lain seperti yang terjadi di kasus Joker dan Sulli. Tidak boleh ada korban pula hanya untuk menyadarkan kita betapa pentingnya menjadi orang baik di media sosial.

Sedang untuk diri kita sendiri yang, tanpa disadari, juga berani mengambil risiko kena bully. Mau nggak mau, siap nggak siap, kita bisa dapat omongan orang kapan saja setelah kita memutuskan untuk bergabung dalam lingkaran pertemanan yang semakin luas dan terintegrasi. Taruhannya, kesehatan psikis kita sendiri kalau lama kelamaan terlalu mementingkan apa yang terjadi di sana.

Tamengnya, hanya rasa cinta dan sayang terhadap diri sendiri. Rehatlah jika merasa itu diperlukan, jauhkan diri sejenak dari media sosial jika ia mulai terasa menyesakkan. Kita harus mulai dari dalam diri sendiri untuk tidak “memakan mentah-mentah” apa yang bersirkulasi di jejaring sosial. Saya percaya adanya relasi baik (maupun buruk) antara platform komunikasi berbasis teknologi dengan kesehatan mental. Tapi, tidak ada relasi yang lebih kuat dalam rangka menjaga kesehatan mental selain seseorang dan kemauannya untuk menerima diri sendiri dan bukan celotehan orang lain.

Lucu, ketika kita adalah satu-satunya orang yang dapat memahami dan mencintai diri sendiri lebih dari siapapun, tapi kita masih terjebak dengan standar yang ditetapkan orang lain yang belum pernah sedetikpun menjalani kehidupan kita. Masuk ke dunia maya, kita akan bertemu orang-orang yang berpikir layaknya mereka tahu tentang kita. Demi kemaslahatan kita sendiri, dengarkan suara kita sendiri dan bukan mereka. Demi kesehatan kita sendiri, cintai diri kita terlebih dahulu sebelum membuka hati untuk pendapat mereka.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi