Thursday, October 31, 2019

Dear Self, stay safe and sane

Bulan Oktober, tepatnya tanggal 10, diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia. Ragam aktivitas dilaksanakan karena banyak pihak kian ingin turut menyemarakkan, termasuk berbagai bentuk edukasi dan kampanye yang disampaikan melalui media sosial. Saya merasa betul betapa jagat maya penuh dengan seruan tentang perayaan Hari Kesehatan Mental.

Khususnya pada tahun ini, suasana peringatan Hari Kesehatan Mental diwarnai dengan pemutaran film Joker –yang hangat diperbincangkan karena diangkatnya isu penyakit jiwa. Serta, kematian penyanyi-aktris Korea Selatan, Sulli (Choi Jinri), karena pilihannya untuk bunuh diri.

Media sosial adalah sarana termudah berbagi informasi dan wadah berekspresi di era kini. Satu hal yang harus kita sadari adalah, media sosial dapat bersifat sebagai pisau bermata dua mewakili segala manfaat dan mudaratnya. Media sosial dapat menjadi ajang dan sumber kita mengeksplorasi eksistensi kesehatan mental. Di sisi yang lain, media sosial dapat menjadi pemicu adanya, bahkan memperparah kondisi penyakit mental. Hati-hati.

Kita tentu sudah sering mendengar istilah perisakan, atau bahasa “keren”-nya bullying. Dalam Psychology Today (Maryam Jameelah di Voxpop, 2019), bullying adalah upaya penindasan dengan pola khusus yang betujuan untuk melukai dan mempermalukan orang lain. Bullying adalah perilaku yang disengaja untuk menyebabkan kerugian pada orang lain atau korban.

Menurut saya, alasan di balik seseorang melakukan bullying tidak bisa disamaratakan. Ada yang melemparkan bullying sebagai bentuk pelampiasannya, ada pula yang memang seorang pure evil.

Bullying dalam film Joker dilakukan secara langsung oleh orang-orang sekitar dengan mencela kondisi Arthur Fleck a.k.a. si Joker. Arthur menderita sebuah gangguan kesehatan, di mana ia akan mengeluarkan tawa tak terkontrol sebagai akibat cedera pada otak.

Arthur dianggap sebagai orang yang konyol. Bahkan melalui siaran langsung televisi dalam film tersebut, kondisinya membuat Arthur seperti sah-sah saja dilabeli sebagai joke atau lelucon masyarakat. Masalahnya yang kemudian Arthur menjadi seorang penjahat, bukan karena ia melebih-lebihkan ejekan atau bullying orang terhadapnya. Kita tidak pernah tahu seberapa besar toleransi orang terhadap rasa sakit dan malu. Walaupun saya tidak membenarkan aksi kejinya selepas ia merasa tersakiti.

Kisah sedih lain dialami Sulli di laman maya. Oh, Sulli-ku yang malang.

Hingga saat ini, saya masih merasa heran dan sedih mengingat bagaimana orang di luar sana dengan mudahnya meninggalkan kalimat-kalimat bernada apatis (read: negatif) di akun media sosial Sulli, baik ketika ia masih hidup maupun telah tiada.

Kalau boleh saya bilang, Sulli justru telah menjadi sosok yang sangat kuat, berbakat, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sulli adalah contoh advokasi zaman sekarang yang berani menyuarakan hak dan pilihan seorang perempuan. Akhirnya, ia memilih berhenti menanggapi mereka yang justru lebih dulu tidak pernah bersedia untuk mengerti. Sesungguhnya, Sulli mencoba bertahan, hingga merasa sudah mencapai batasnya selama itu diam saja ketika mendapat perundungan. Saat ini, perlu diketahui saya pun tidak membenarkan keputusan Sulli untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Balik lagi ke media sosial, kita tidak perlu, kok, secara tiba-tiba, menjadi saint yang membagikan seluk-beluk kesehatan mental agar tingkat kepedulian menjadi tinggi. Yang terpenting, kita tidak boleh menjadi villain yang memberikan tekanan pada orang lain melalui komentar-komentar kita.

Tidak boleh ada netizen kejam lain seperti yang terjadi di kasus Joker dan Sulli. Tidak boleh ada korban pula hanya untuk menyadarkan kita betapa pentingnya menjadi orang baik di media sosial.

Sedang untuk diri kita sendiri yang, tanpa disadari, juga berani mengambil risiko kena bully. Mau nggak mau, siap nggak siap, kita bisa dapat omongan orang kapan saja setelah kita memutuskan untuk bergabung dalam lingkaran pertemanan yang semakin luas dan terintegrasi. Taruhannya, kesehatan psikis kita sendiri kalau lama kelamaan terlalu mementingkan apa yang terjadi di sana.

Tamengnya, hanya rasa cinta dan sayang terhadap diri sendiri. Rehatlah jika merasa itu diperlukan, jauhkan diri sejenak dari media sosial jika ia mulai terasa menyesakkan. Kita harus mulai dari dalam diri sendiri untuk tidak “memakan mentah-mentah” apa yang bersirkulasi di jejaring sosial. Saya percaya adanya relasi baik (maupun buruk) antara platform komunikasi berbasis teknologi dengan kesehatan mental. Tapi, tidak ada relasi yang lebih kuat dalam rangka menjaga kesehatan mental selain seseorang dan kemauannya untuk menerima diri sendiri dan bukan celotehan orang lain.

Lucu, ketika kita adalah satu-satunya orang yang dapat memahami dan mencintai diri sendiri lebih dari siapapun, tapi kita masih terjebak dengan standar yang ditetapkan orang lain yang belum pernah sedetikpun menjalani kehidupan kita. Masuk ke dunia maya, kita akan bertemu orang-orang yang berpikir layaknya mereka tahu tentang kita. Demi kemaslahatan kita sendiri, dengarkan suara kita sendiri dan bukan mereka. Demi kesehatan kita sendiri, cintai diri kita terlebih dahulu sebelum membuka hati untuk pendapat mereka.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi