Bulan Oktober, tepatnya tanggal 10, diperingati
sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia. Ragam aktivitas dilaksanakan karena banyak
pihak kian ingin turut menyemarakkan, termasuk berbagai bentuk edukasi dan
kampanye yang disampaikan melalui media sosial. Saya merasa betul betapa jagat maya
penuh dengan seruan tentang perayaan Hari Kesehatan Mental.
Khususnya pada tahun ini, suasana peringatan Hari
Kesehatan Mental diwarnai dengan pemutaran film Joker –yang hangat
diperbincangkan karena diangkatnya isu penyakit jiwa. Serta, kematian
penyanyi-aktris Korea Selatan, Sulli (Choi Jinri), karena pilihannya untuk bunuh
diri.
Media sosial adalah sarana termudah berbagi informasi
dan wadah berekspresi di era kini. Satu hal yang harus kita sadari adalah,
media sosial dapat bersifat sebagai pisau bermata dua mewakili segala manfaat
dan mudaratnya. Media sosial dapat menjadi ajang dan sumber kita mengeksplorasi
eksistensi kesehatan mental. Di sisi yang lain, media sosial dapat menjadi
pemicu adanya, bahkan memperparah kondisi penyakit mental. Hati-hati.
Kita tentu sudah sering mendengar istilah perisakan,
atau bahasa “keren”-nya bullying. Dalam
Psychology Today (Maryam Jameelah di Voxpop, 2019), bullying adalah upaya penindasan dengan pola khusus yang betujuan
untuk melukai dan mempermalukan orang lain. Bullying
adalah perilaku yang disengaja untuk menyebabkan kerugian pada orang lain
atau korban.
Menurut saya, alasan di balik seseorang melakukan bullying tidak bisa disamaratakan. Ada
yang melemparkan bullying sebagai bentuk
pelampiasannya, ada pula yang memang seorang pure evil.
Bullying dalam
film Joker dilakukan secara langsung oleh orang-orang sekitar dengan mencela kondisi
Arthur Fleck a.k.a. si Joker. Arthur menderita
sebuah gangguan kesehatan, di mana ia akan mengeluarkan tawa tak terkontrol
sebagai akibat cedera pada otak.
Arthur dianggap sebagai orang yang konyol. Bahkan
melalui siaran langsung televisi dalam film tersebut, kondisinya membuat Arthur
seperti sah-sah saja dilabeli sebagai joke
atau lelucon masyarakat. Masalahnya yang kemudian Arthur menjadi seorang penjahat,
bukan karena ia melebih-lebihkan ejekan atau bullying orang terhadapnya. Kita tidak pernah tahu seberapa besar toleransi
orang terhadap rasa sakit dan malu. Walaupun saya tidak membenarkan aksi
kejinya selepas ia merasa tersakiti.
Kisah sedih lain dialami Sulli di laman maya. Oh,
Sulli-ku yang malang.
Hingga saat ini, saya masih merasa heran dan sedih
mengingat bagaimana orang di luar sana dengan mudahnya meninggalkan kalimat-kalimat
bernada apatis (read: negatif) di
akun media sosial Sulli, baik ketika ia masih hidup maupun telah tiada.
Kalau boleh saya bilang, Sulli justru telah menjadi sosok
yang sangat kuat, berbakat, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sulli
adalah contoh advokasi zaman sekarang yang berani menyuarakan hak dan pilihan
seorang perempuan. Akhirnya, ia memilih berhenti menanggapi mereka yang justru
lebih dulu tidak pernah bersedia untuk mengerti. Sesungguhnya, Sulli mencoba
bertahan, hingga merasa sudah mencapai batasnya selama itu diam saja ketika
mendapat perundungan. Saat ini, perlu diketahui saya pun tidak membenarkan keputusan
Sulli untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Balik lagi ke media sosial, kita tidak perlu, kok, secara
tiba-tiba, menjadi saint yang membagikan
seluk-beluk kesehatan mental agar tingkat kepedulian menjadi tinggi. Yang
terpenting, kita tidak boleh menjadi villain
yang memberikan tekanan pada orang lain melalui komentar-komentar kita.
Tidak boleh ada netizen kejam lain seperti yang terjadi
di kasus Joker dan Sulli. Tidak boleh ada korban pula hanya untuk menyadarkan
kita betapa pentingnya menjadi orang baik di media sosial.
Sedang untuk diri kita sendiri yang, tanpa disadari, juga
berani mengambil risiko kena bully.
Mau nggak mau, siap nggak siap, kita bisa dapat omongan
orang kapan saja setelah kita memutuskan untuk bergabung dalam lingkaran
pertemanan yang semakin luas dan terintegrasi. Taruhannya, kesehatan psikis
kita sendiri kalau lama kelamaan terlalu mementingkan apa yang terjadi di sana.
Tamengnya, hanya rasa cinta dan sayang terhadap diri
sendiri. Rehatlah jika merasa itu diperlukan, jauhkan diri sejenak dari media
sosial jika ia mulai terasa menyesakkan. Kita harus mulai dari dalam diri
sendiri untuk tidak “memakan mentah-mentah” apa yang bersirkulasi di jejaring
sosial. Saya percaya adanya relasi baik (maupun buruk) antara platform komunikasi berbasis teknologi dengan
kesehatan mental. Tapi, tidak ada relasi yang lebih kuat dalam rangka menjaga
kesehatan mental selain seseorang dan kemauannya untuk menerima diri sendiri
dan bukan celotehan orang lain.
Lucu, ketika kita adalah satu-satunya orang yang dapat
memahami dan mencintai diri sendiri lebih dari siapapun, tapi kita masih
terjebak dengan standar yang ditetapkan orang lain yang belum pernah sedetikpun
menjalani kehidupan kita. Masuk ke dunia maya, kita akan bertemu orang-orang
yang berpikir layaknya mereka tahu tentang kita. Demi kemaslahatan kita
sendiri, dengarkan suara kita sendiri dan bukan mereka. Demi kesehatan kita
sendiri, cintai diri kita terlebih dahulu sebelum membuka hati untuk pendapat
mereka.
*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi
*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi